Kantor Wisata Bromo Indolora

1 min read

Aku diam dan mengagumi seorang gadis. Senyumnya yang lembut, tawanya yang ramah. Tiap hari aku melihatnya, mengaguminya dari jauh. Kala berangkat, ketika pulangnya dia dari kantor wisata bromo indolora.

Entah sejak kapan aku mulai memperhatikannya. Terbiasa mengaguminya tanpa di mengerti oleh mata lain. Berusaha mencari tanpa mengungkap.

Dadaku selalu berdegup tak normal ketika menemukannya di sebrang jalan. Seolah ada rasa rindu. Rindu yang bertuan pada tanpa kalimat. “Itu dia, aku menemukannya”.

Dan hanya dengan itu, rasanya sudah cukup bagiku sepanjang hari tuk bahagia. “Apa jadinya aku jika dia tau aku sedang merindunya?”. Aku yang hanya selalu memperhatikannya, dari jauh.

Cara dia berjalan, rambut kuncir ekor kuda, dan juga ketika dia bicara dengan orang yang menyapanya. “Betapa menariknya, kamu itu”.

Aku tak tau, aku tak ingin mengungkap apa yang aku rasakan. Aku sama sekali tak ingin memberitahu jika aku tlah lama mengaguminya. “Apa aku salah?”.

Aku merasa cukup seperti ini, melihatnya, mendengarnya, tersenyum padanya, menemukannya di jalan pulang. “Biarlah, aku sudah bahagia”.

Hari ini, di jalannya pulang, dia menghampiriku. “Apakah kamu ada waktu sebentar?”. Aku diam, aku masih tak mampu bangkit dari keterkejutanku.”Jika tak keberatan, aku ingin mengajakmu menikmati sunrise Bromo. Pengen ikut open trip, aku ingin menyegarkan mata”.

Tanpa sepatah kata, aku mengangguk. Tanpa terfikir, tanpa pertimbangan, dan hanya rentetan nafas panjang. Aku mengiyakan.

Entah energi mana yang menganggukkan kepalaku. Seperti engsel leherku otomatis tergerak sendiri tanpa mendahulukan logika serta pertimbangan.

Kemudian dia pergi setelah salam, meninggalkanku yang masih berdiri, yang masih berusaha keluar dari kepungan kalimat- kalimat “apa ini? kenapa ini? ada apa?” setelah dengan mudah menganggukkan kepala.

Namun, di sisi lain, lubuk hatiku terasa begitu berbunga. Bunga anggrek, mawar, melati semuanya indah. “Dia bicara padaku.”, “matanya bertemu dengan mataku”.

Namun terbesit rasa khawatir. Aku takut ini malah membawaku pada kemajuan yang buruk. Aku takut jika nanti aku menyakiti. Aku takut, jika aku mengecewakan. “Harusnya aku diam?”.

Terserahlah, aku tak peduli pada nanti. Aku ingin menikmati bahagia yang sedang memenjaraku dari terik ini.

Terimakasih Indolora, yang menyediakan open trip gunung bromo, sehingga aku dapat memiliki waktu, bersamanya.

Dan harapanku, semoga dari sini, aku dapat mengaguminya tanpa ada kalimat “dari jauh”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *