Industri Kertas dan Pulp Terkena Masalah

2 min read

Direktur Eksekutif Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Liana Bratasida mengatakan, saat ini, kebutuhan bahan baku industri pulp masih belum tercukupi dari hutan tanaman industri (HTI) dan sebagian didatangkan diimpor dari luar negeri. Sebab, ada sejumlah kebijakan pemerintah yang mengurangi alokasi bahan baku lahan HTI. Sementara itu, Liana mengatakan, terbatasnya kertas bekas (recovered paper) di dalam negeri membuat pebisnis kertas harus mengimpor dari luar negeri sekitar 2 juta ton per tahun.

Dia menambahkan, industri lokal tak memproduksi pulp serat panjang yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas kertas. Alhasil, per September 2018, impor komoditas ini naik 15,39%, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Krisis bahan baku, demikian Liana, diperparah oleh mahalnya biaya energi. Saat ini, industri pulp dan kertas membeli gas dengan harga berkisar US$ 9,8-10,93 per mmbtu.

genset untuk industri kertas dan pulp

Janji pemerintah memangkas harga gas industri hingga ke level US$ 6 per mmbtu hingga kini belum terealisasi. “Akibatnya, industri pulp dan kertas kurang dapat bersaing dengan negara-negara produsen lainnya yang harga gasnya jauh lebih murah,” kata Liana kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini. Industri pulp dan kertas, kata Liana, juga menghadapi biaya logistik tinggi. Saat ini, peringkat logistik Indonesia rendah, yakni 63 di dunia, dengan kontribusi 23,5% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Biaya logistik meliputi biaya transportasi dan penyimpanan di pelabuhan. Selain itu, Liana menuturkan, industri pulp dan kertas harus berurusan dengan sejumlah pajak dan retribusi yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi. “Jenisnya seperti retribusi daerah, pajak penerangan jalan dan biaya listrik paralel. Ini menurunkan daya saing industri pulp dan kertas,” kata Liana. Di pasar ekspor, Liana mengungkapkan, industri pulp dan kertas masih harus menghadapi tuduhan dumping dan subdisi oleh AS dan Australia.

Akibatnya, ekspor ke dua negara itu terhambat. “Alasan mereka adalah particular market situation (PMS) yang dikaitkan dengan kebijakan pengembangan industri dalam RIPIN, kebijakan larangan ekspor log, kebijakan jangka panjang pembangunan kehutanan, price benchmarking dan intervensi pemerintah,” kata dia. Strategi Ekspor Liana mengatakan, untuk meningkatkan ekspor, daya saing industri pulp dan kertas harus ditingkatkan.’

baca juga : harga genset Perkins 500 Kva

Langkah-langkah yang bisa dilakukan seperti pengurangan biaya-biaya yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi, peningkatan efisiensi di berbagai bidang, dan relaksasi kebijakan serta dukungan kemudahan untuk investasi baru Kemudian, dia nenegaskan, melakukan diversifikasi produk yang mempunyai nilai tambah tinggi, pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk jenis-jenis kertas tertentu, dan pengurangan berbagai jenis pungutan/retribusi di daerah.

Dia menilai, impor bahan baku, terutama yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri sebaiknya tidak dikenakan tarif bea masuk impor tinggi. “Selain itu, industri pulp dan kertas perlu diberi kemudahan-kemudahan lain dalam investasi baru, seperti tax holiday dan lain-lain,” kata Liana.

Liana mengatakan, pemerintah perlu mengatasi hambatan perdagangan internasional dengan meningkatkan diplomasi perdagangan dan meninjau kembali perjanjian-perjanjian perdagangan yang merugikan. “Ini untuk mencari peluang pasar baru di negara tujuan ekspor nontradisional,” kata dia.

Liana mengapreasiasi kerjasama Indonesia-Finlandia dan berguna untuk meningkatkan ekspor kertas Indonesia dan diharapkan Indonesia dapat membeli pulp serat panjang dari Finlandia dengan harga yang kompetitif, serta teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Sebelumnya, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ngakan Timur Antara mengatakan, industri pulp dan kertas memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional.

baca juga : Harga genset Yanmar

Berdasarkan kinerja ekspor, industri kertas berhasil menduduki peringkat pertama dan industri pulp peringkat ketiga untuk ekspor produk kehutanan selama 2011-2017. Pada 2017, kedua industri tersebut menyumbang ke devisa negara sebesar US$ 5,8 miliar, yang berasal dari ekspor pulp sebesar US$ 2,2 miliar ke beberapa negara tujuan utama yaitu Tiongkok, Korea, India, Bangladesh, dan Jepang. Kemudian ekspor kertas sebesar US$ 3,6 miliar ke negara Jepang, AS, Malaysia, Vietnam, dan Tiongkok.

Tempat Jual Mesin Jahit

Punya Mesin Jahit Singer dirumah tapi tidak lagi digunakan? Jual saja daripada akhirnya rusak dan jadi rongsokan. Akan lebih baik kalau berguna bagi orang...
Asome Mutiah
1 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *